Pendekar Tongkat Emas

Synopsis

Cempaka, Pendekar yang disegani dan sangat dihormati dalam dunia persilatan, adalah pemegang maha senjata dan jurus mematikan Tongkat Emas yang kekuatannya tak tertandingi. Cempaka yang mulai menua akan mewariskan senjata dan jurus Tongkat Emas kepada salah satu muridnya.

Pembunuhan dan pengkhianatan terjadi sebelum dunia persilatan mengetahui siapa ahli warisnya. Tongkat Emas jatuh ke tangan yang salah dan tak dapat dihindari, kekacauan terjadi. Satu satunya orang yang dapat membantu mengambil alih Tongkat Emas adalah Pendekar Naga Putih, bekas pasangan Cempaka, yang telah lama menghilang.

Dua orang murid Cempaka yang tersisihkan dan terkhianati, harus  menemukan Pendekar Naga Putih sebelum terlambat.






Director's Note

Ini tentang kenangan masa kecil. Menyelinap diantara orang-orang dewasa untuk melihat pendekar jagoan mereka terbang dan memukul lawan-lawannya, lupa mengerjakan PR karena asyik menamatkan ratusan halaman komik silat yang disewa dengan menyisihkan uang jajan. Bukan tentang kekerasan yang diajarkan, tapi bagaimana para pendekar jagoan mereka mengajarkan bahwa yang benar harus selalu dibela dan yang salah pasti akan kalah. Menurut saya itu adalah pelajaran penting yang di dapat saat mereka keluar dari gedung bioskop dan tersenyum karena merasa telah menjadi saksi dari kehebatan para pendekar jagoan mereka memukul jatuh musuh-musuhnya.

Semua kemudian tumbuh menjadi manusia dewasa dan mengalami sendiri bagaimana sakitnya disaat mengalami kekalahan. Tapi diantara kekalahan itu sisi kanak-kanak kita selalu muncul untuk berbisik “Tenang..jagoan selalu kalah duluan!”. Hingga kita sadar bahwa kita semua adalah jagoan dari hidup kita sendiri. Dan kita sudah tahu aturannya, bahwa jagoan selalu membela kebenaran.

Itulah film ini, berusaha mengembalikan lagi kenangan untuk tetap selalu membela yang benar. Bangsa ini sudah terlanjur terlalu lama berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Mungkin perlu sedikit hiburan agar lebih tenang dan bisa melihat permasalahan yang sebenarnya paling mendasar. Agar segala sesuatu yang sudah terlalu ruwet bisa terurai satu per satu. Semua perlu diingatkan kembali tentang  kenangan–kenangan masa kecil dimana semuanya belum terlalu rumit, bahwa hidup pada hakikatnya adalah membela yang benar.

 

Ifa Isfansyah

Sutradra




Producer's Note

Indonesia memiliki sejarah panjang tentang komik silat. Komik ini menjadi bagian hidup perkembangan anak-anak dan remaja di era tahun 70an dan awal 80an. Sebagian orang pasti masih ingat bagaimana mereka harus mengendap-endap dari orang tua mereka untuk membaca komik, karena kebanyakan orang tua menganggap membaca komik merupakan pengaruh buruk bagi anak-anak mereka. Saya justru tumbuh di sebuah keluarga yang semuanya menyukai komik silat, termasuk orang tua saya. Garasi kami di sore hari menjadi tempat teman teman saya (yang dilarang membaca komik silat oleh orang tua mereka) bersembunyi untuk membaca komik komik silat koleksi saya dan adik saya (Indra Lesmana).

Di era tahun 80 an, beberapa komik silat pernah diangkat ke layar lebar dan hampir sebagian besar sukses. Di era tahun 90 an, tak hanya komik silat, film Indonesia pun hilang di pasaran. Kita tak bisa lagi menemukan komik silat maupun melihat film silat Indonesia di bioskop kita lagi.

Setelah hampir 8 tahun mencoba mencari partner untuk dapat memproduksi  film ini, akhirnya di tahun 2012, Miles Films mendapatkan sambutan dari KG Studio. Biaya yang tidak sedikit untuk membuat film serupa ini akhirnya juga mendapatkan sederet produser eksekutif yang ikut membantu mendanai film ini.

Saat ini masih banyak yang bertanya kepada saya, film seperti apa Pendekar Tongkat Emas ini? Film action? Film pencak silat? Film kung-fu? Seperti Saur Sepuh? Saya sendiri masih kesulitan untuk menjawabnya, apalagi kalau harus menyebut nama nama inspirasi saya seperti Kho Ping Hoo, Ganes TH, Djair sampai Henky kepada generasi muda, yang kebanyakan akan mengernyitkan keningnya.

Semoga film ini sendiri yang bisa menjawabnya.

 

Mira Lesmana

Produser




Production Note

Mimpi yang menjadi kenyataan. Kecintaannya kepada komik silat di masa kecil Mira Lesmana membawanya mewujudkan kisah tersebut menjadi sebuah film. Bagi Mira, membuat film silat adalah mewujudkan mimpi yang tertunda.

Proses syuting yang berlangsung selama 3 bulan, mulai bulan April dan berakhir di bulan Juni 2014  ini merupakan proses syuting film terpanjang Miles Films, sejak film Gie (2005).

Sumba yang terletak di Nusa Tenggara Timur menjadi pilihan pertama lokasi syuting. Itulah yang muncul dalam benak Mira setiap kali ia melihat foto-foto Pulau Sumba. Meski ia sendiri belum pernah berkunjung ke sana pada saat itu, namun ia sudah mempertimbangkan untuk mengambil Sumba sebagai lokasi syuting PENDEKAR TONGKAT EMAS.

Pada tahun 2011, saat Miles Film memproduksi film Atambua 39° Celcius di Timor, Mira dan kawan-kawan menyempatkan diri mengunjungi Sumba untuk pertama kalinya. Ia datang bersama Ifa Isfansyah, Riri Riza (Co Producer), Gunnar “Unay” Nimpuno (Director of Photography), Rivano Setyo Utomo (asisten sutradara), dan Toto Prasetyanto (Line Producer).

Di sana, mobil mereka berhenti setiap sepuluh menit untuk mengabadikan gambar dan banyak menemukan segala keunikan alam. Langitnya biru dengan sinar matahari yang melimpah. Lanskap, tekstur tanah, danau, lautan, terumbu karang, padang rumput, perbukitan, gunung – semuanya indah. “Kami ingin benar-benar memanfaatkan keindahan alam Sumba secara maksimal,” kata Ifa.

Keindahan Sumba ternyata memiliki tantangan yang cukup berat. Letaknya sulit dijangkau sehingga pembangunan set pun tidak mudah, sebab kapasitas tenaga kerja, alat, maupun material di Sumba sangat terbatas. “Akhirnya orang-orang yang membangun tetap dari Jawa, bahan baku pun kita kirim dari Jawa,” kata Ifa.

Eros Eflin, penata artistik, pun mengungkapkan bahwa untuk membangun set dilakukan dua bulan sebelum syuting. “Salah satu titik lokasi itu berada di sebuah lembah. Tidak ada akses kendaraan ke lokasi set. Material bangunan mau tak mau harus digotong menelusuri lereng. Belum lagi cuaca sangat panas.” Beruntung ia mendapat bantuan penduduk setempat. “Mereka membantu banget,” katanya.

Faktor cuaca di Kabupaten Sumba Timur terkenal dengan musim kemaraunya yang panjang. Tak heran pada siang hari terik sinar matahari terasa menyengat. Nicholas Saputra mengakui hal tersebut membuat syuting terasa berat. Padahal ia sudah berada di lokasi sepuluh hari sebelum gilirannya syuting, untuk beradaptasi. “Haus, keringat keluar, dehidrasi,” katanya. Bagi Tara Basro, perubahan cuaca Jakarta-Sumba itu cukup ekstrim. “Hari pertama syuting aku hampir heat stroke,” ujarnya. Heat stroke adalah keadaan darurat yang terjadi akibat paparan ekstrim matahari terus-menerus, sedangkan ia tidak cukup berkeringat untuk menurunkan suhu tubuh.

Tapi, di luar dugaan, jadwal syuting justru terhambat gara-gara hujan. Padahal, hujan tak pernah turun selama pencarian lokasi. “Kami membangun set selama dua bulan panas terus, tak pernah hujan,” kata Eros. Anehnya, hujan mendadak turun pada hari kedua syuting. Rupanya, titik set yang digunakan sebagai padepokan berada di dataran tinggi. Wilayah itu diguyur hujan hampir dua pekan. “Untung jadwal syuting kami cukup panjang, sehingga jadwal dapat kami atur kembali,” ujar Ifa.

Banyaknya adegan perkelahian menggunakan jurus dengan gerakan akrobatik membuat film ini perlu penanganan khusus. Miles Films pun bekerjasama dengan Xiong Xin Xin, salah satu body double aktor kung fu legendaris Jet Lee, diajak untuk ikut melatih dan mengajarkan koreografi bela diri kepada para pemain. “Kami membutuhkan ahli yang tidak saja terampil meramu adegan laga dengan standar yang tinggi, namun juga menguasai berbagai teknik pengambilan gambar adegan laga yang rumit dan ber-resiko tinggi, Xiong Xin Xin telah melakukan ini lebih dari 30 tahun” ujar Riri.

Miles Films dan Xin Xin bekerjasama selama satu tahun, sejak persiapan sebelum syuting hingga selesai waktu syuting. Pada saat Mira, Ifa, dan Xin Xin duduk bersama untuk pertama kalinya di Hong Kong, mereka langsung membahas skenario. Pendapat Xin Xin ketika itu cukup mengubah pandangan Ifa tentang adegan fighting. “Xin Xin lebih manusiawi dan realistis dalam melihat karakter pendekar,” kata Ifa.

Lokasi syuting PENDEKAR TONGKAT EMAS yang sebagian besar berada di ruang terbuka, seperti gurun, sabana, maupun pantai, tentunya dibutuhkan perangkat yang dapat mendukung terciptanya efek dramatik.

Salah satunya adalah crane, mesin konstruksi yang mampu mengangkat benda seberat 18 hingga 20 ton. Kendaraannya sendiri berbobot 40 ton. Itulah alat yang dipakai untuk melontarkan tubuh para pemain dalam adegan akrobatik. Dikarenakan alat tersebut tidak tersedia di Sumba, maka terpaksa harus didatangkan dari Jawa – diangkut dari Surabaya ke Sumba dengan kapal laut.

Efek dramatik lainnya juga diciptakan melalui teknik pengambilan gambar lewat kamera Red Dragon yang didukung oleh Focused Equipment. Film PENDEKAR TONGKAT EMAS merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan kamera tersebut. “Setiap kali bicara skala kualitas, kami sudah bicara langsung ke kebutuhan teknisnya,” ujar Riri.

Efektivitas dan efisiensi selalu menjadi tuntutan dalam sebuah produksi film. Itu pula yang menjadi tantangan film PENDEKAR TONGKAT EMAS yang melibatkan 16 pemain, 350 figuran, dan 155 kru, dengan kondisi lokasi yang jauh dan banyaknya tuntutan skenario. “Harus ada strategi supaya tetap efektif tetapi pas dengan kebutuhan tuntutan skenario,” ujar Line Producer, Toto Prasetyanto.

Jika ditotal, para pemain dan kru yang berasal dari Jakarta diterbangkan ke Sumba secara bertahap. Selama di Sumba, mereka menginap di 4 hotel, 5 rumah penduduk, sebuah rumah dinas, dan mess Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Untuk mengelola pemain dan kru sebesar itu, Toto menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi. Selain itu, ia juga senantiasa menyiapkan langkah cadangan seandainya terjadi peristiwa di luar rencana.

“Kami sangat terbantu karena Bupati Sumba Timur turut mensosialisasikan film ini,” lanjut Toto. Para penduduk setempat itu ada yang menjadi bagian kru yang membantu mencari lokasi, perijinan lokasi, atau runner production. Sebagian lainnya menjadi kru departemen artistik, kostum, dan make-up.

Seluruh pemain figuran juga berasal dari Waingapu, ibukota Sumba Timur, maupun tiga desa yang menjadi set lokasi syuting yang telah lolos casting tiga bulan sebelum syuting dan diharuskan mengikuti latihan koreografi laga selama satu bulan. Ada sekitar 350 pasang kostum khusus untuk mereka dan juga harus didandani sesuai karakter masing-masing. Karena penduduk Sumba masih suka mengunyah sirih, Nanda Giri, yang bertugas sebagai talent coordinator, harus mencari akal supaya mereka menghentikan kebiasaannya untuk sementara.

Pengalaman syuting di Sumba selama tiga bulan, menjadi pengalaman yang luar biasa berkesan bagi semua pemain dan kru. Dan pada saat yang sama tentu saja Miles Films dan KG Studio berharap film ini bisa menghibur penonton dan memberikan tontonan yang berbeda bagi penonton Indonesia.

Press Kit

PENDEKAR TONGKAT EMAS SIAP SYUTING Mengangkat Kisah Silat Klasik Indonesia ke Layar Lebar
Jakarta – 20 Maret 2014

Generasi tahun 70’an pasti masih ingat dengan komik-komik populer pada masa itu, seperti komik kisah petualangan Si Buta Dari GoaHantu karya Ganes TH, Djaka Sembung karya Djair, Panji Tengkorak karya Hans Jaladara, Pendekar Seruling Gembala karya Henky hingga Gina karya Gerdi W.K. dan Gundala Putera Petir karya Harya Suryaminta alias Hasmi. Namun sayang awal tahun 1980 merupakan awal mati surinya industri komik Indonesia.Selain industri penerbitan yang dinilai kurang mendukung penerbitan komik nasional, pada masa itu komik Indonesia juga kalah bersaing dengan derasnya komik manga asal Jepang yang mulai masuk ke Indonesia.

Kecintaan akan komik silat sejak masa kecil, membawa produser Mira Lesmana tertantang untuk membuat sebuah film dengan tema silat klasik. Sejak tahun 2006 ia mulai mengumpulkan komik-komik silat bekas favoritnya untuk diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar.

“Namun kebanyakan komik yang saya suka ini panjang ceritanya, sulit dituangkan ke dalam sinopsis film 2 jam dan di tahun 2006 itu saya merasa belum yakin betul bahwa saya bisa memproduksinya dengan baik. Akhirnya proposal cerita film silat klasik ini saya kesampingkan dulu.Sampai awal tahun 2012 keinginan saya kembali muncul.Kali ini saya merasa yakin, bahwa kita harus menciptakan karakter dan cerita sendiri” ungkap Mira.

Selama 8 tahun menyimpan obsesi untuk mengangkat kisah silat klasik Indonesia ke layar lebar, membuat Mira Lesmana mencari sosok sutradara yang sesuai dan memiliki kegemaran yang sama akan komik silat Indonesia. Ifa Isfansyah adalah sutradara yang merespon dengan sangat antusias ide ini.

“Kami sama-sama pengagum dan pembaca komik-komik silat. Dan rasanya sudah lama sekali tidak ada film dengan genre silat klasik seperti cerita di dalam komik-komik silat tersebut. Selain itu filosofi-filosofi silat sangat menarik untuk membungkus sebuah cerita film,” komentar sang sutradara, Ifa Isfansyah.

Kerinduan akan kisah silat Indonesia yang berkualitas baik juga dirasakan oleh rumah produksi Kompas Gramedia Studio yang menjadi partner Miles Films dalam memproduksi film “PENDEKAR TONGKAT EMAS” ini. “Kami meyakini sekarang adalah saat tepat untuk mulai mengembangkan film Indonesia yang lebih berkualitas lagi, dan menjawab selera kelompok menengah baru Indonesia,” ujar Agung Adiprasetyo, selaku produser Kompas Gramedia Studio.“Dan kami menerima pinangan Miles Films karena selain melihat isi cerita, kami juga melihat lembaga pembuatnya, dan kami yakin Miles Films adalah lembaga mumpuni dan tidak perlu diragukan keandalannya,” lanjut Agung.

Setelah garis besar cerita ditentukan, Mira Lesmana (produser), dan Ifa Isfansyah (sutradara) mengajak 2 orang penulis skenario senior Jujur Prananto dan Seno Gumira Ajidarma untuk menuliskan skenario film “PENDEKAR TONGKAT EMAS”, “Baik saya maupun Ifa, turut aktif menjadi penulis di tim penulisan skenario ini” tambah Mira.

“PENDEKAR TONGKAT EMAS” adalah sebuah cerita fiksi mengenai kekuasaan, ambisi, pengkhianatan, balas dendam dan juga cinta. Aksi-aksi laga campuran antara seni bela diri silat dan wushu akan mendominasi koreografi pertarungan di film ini. “Selain sebuah cerita yang menarik dengan drama yang mampu membawa emosi penonton, juga dihadirkan aksi-aksi laga dengan teknis yang tinggi.Landscape Sumba juga akan menjadi daya tarik tersendiri,” ungkap Ifa, antusias.

Keindahan alam Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan tekstur dan landscape yang khas, dipilih sebagai lokasi yang cocok untuk menggambarkan sebuah negeri antah berantah di film “PENDEKAR TONGKAT EMAS”. Proses syuting rencananya akan dilakukan selama 3 bulan mulai bulan April 2014. Ini merupakan proses syuting film terpanjang sejak film “GIE” tahun 2005 lalu dan film dengan biaya produksi terbesar dalam sejarah Miles Films.

Salah satu body double aktor kung fu legendaris Jet Lee, XinXin Xiong, diajak untuk ikut melatih dan mengajarkan koreografi bela diri kepada para pemain. “Terlibatnya XinXin Xiong dalam film ini karena kami menginginkan sebuah film yang belum pernah ada di Indonesia. Dan juga dalam upaya meningkatkan value film hiburan industri kita, sudah seharusnya kita langsung mencari ahlinya agar kemampuan-kemampuan mereka dapat ditularkan disini,” ujar Ifa.

“Film ini membutuhkan proses yang panjang, para aktor yang akan berperan didalamnya membutuhkan waktu persiapan yang panjang untuk dapat menguasai bela diri klasik, terutama basic wushu, karena “tongkat” menjadi senjata utama” ujar Riri Riza, yang dalam produksi film ini bertindak sebagai co-producer.

Sederet aktor ternama Indonesia ikut membintangi film “PENDEKAR TONGKAT EMAS”, seperti Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Eva Celia, Tara Basro, Prisia Nasution, Darius Sinathrya dan artis senior Christine Hakim, Slamet Rahardjo dan Landung Simatupang.

Mewujudkan mimpi terbesar untuk mengangkat kembali kisah silat Indonesia yang sempat melegenda, membutuhkan biaya yang tidak sedikit.“Mau tidak mau, film serupa ini membutuhkan biaya yang cukup besar dan Miles Films membutuhkan partner yang percaya dengan project ini.Kompas Gramedia Studio memiliki antusiasme itu.Baik Miles Films maupun Kompas Gramedia Studio mempunyai keinginan mewarnai perfilman Indonesia dengan mengangkat kembali film silat klasik”, ungkap Mira, antusias.

“Kami ingin sekali ikut meningkatkan kualitas dan value sebuah film hiburan di industri film indonesia sehingga penonton benar-benar mendapatkan tontonan yang berkualitas. Dengan film ini ingin sekali genre film silat klasik kembali menyemarakkan dunia film Indonesia,” ucap Ifa.

Film ini rencananya akan beredar di bioskop di seluruh Indonesia pada liburan akhir tahun 2014 ini.

PENDEKAR TONGKAT EMAS Persiapan Panjang dengan Latihan Penuh Tantangan
Jakarta – 10 November 2014

Kisah “PENDEKAR TONGKAT EMAS” terinspirasi oleh komik komik silat yang pernah berjaya di Indonesia di tahun 70-an hingga awal 80-an. Dunia persilatan adalah alat bercerita tentang kependekaran. Ceritanya terjadi di masa lalu, di dunia antah berantah.Dia seperti dunia yang jauh, tetapi sebenarnya aktual. Cerita silat tentu saja kisah rekaan, tetapi ia mengangkat persoalan yang aktual dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Cerita silat berkisah tentang manusia-manusia yang bisa relevan di masa apa pun. Di dalamnya ada kisah tentang dosa yang dipendam, keserakahan, keinginan untuk berkuasa, dendam, pengkhianatan dan  pahlawan yang berdiri atas nama kebaikan.

“Ada filosofi yang tersembunyi di balik semua itu.Kisah itu sangat dekat sekali dengan kita. Itulah kehebatan cerita silat,” ujar Mira Lesmana, sang produser, yang sangat menggemari komik silat sejak kecil.

Persiapan film ini sangat panjang. Proses riset, penulisan dan hunting lokasi berjalan sejak tahun 2011. Syuting filmnya berlangsung selama 3 bulan mulai bulan April hingga bulan Juni 2014.Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan tekstur dan landscape yang khas, dipilih sebagai lokasi yang cocok untuk menggambarkan sebuah negeri antah berantah di film Pendekar Tongkat Emas.

Ini merupakan proses syuting film terpanjang Miles Films, yang kali ini bekerjasama dengan KG Studio, sejak film “GIE” tahun 2005 dan dengan biaya besar yang mencampai hingga 25 Milyar rupiah. Mewujudkan mimpi terbesar untuk mengangkat kembali kisah silat Indonesia yang sempat melegenda, membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sederet aktor ternama Indonesia ikut membintangi film Pendekar Tongkat Emas, seperti Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Eva Celia, Tara Basro, Prisia Nasution, Darius Sinathrya dan artis senior Christine Hakim, Slamet Rahardjo dan Landung Simatupang.

Ada dua opsi yang harus dipilih untuk menentukan siapa yang akan memerankan tokoh sesuai tuntutan cerita film ini. Pertama, mencari orang yang ahli bela diri kemudian diberi pelatihan akting.Kedua, mencari aktor yang dilatih bela diri.Opsi kedua menjadi pilihan.Pendekar Tongkat Emas bukan sekadar film action, tetapi tetap merupakan cerita drama yang tokoh-tokohnya adalah pendekar silat.Dibutuhkan aktor-aktor yang kuat, yang memiliki kemampuan akting dan menerjemahkan dirinya menjadi pesilat.Demi pilihan itu, maka para aktor harus dilatih bela diri. Secara pribadi, Ifa Isfansyah, sang sutradara juga lebih suka pemain yang tidak punya latar belakang bela diri. “Saya rasanya lebih ingin memulai proses bersama,” katanya.

Maka disusunlah kurikulum untuk mempersiapkan keterampilan laga para pemain yang dirancang dalam waktu tujuh bulan.Sebelum memasuki latihan koreografi, sejak bulan Agustus 2013 para pemain digembleng dengan latihan fisik.“Karena kami pikir ketahanan fisik mereka harus dibenahi dulu,” ujar Mira.

Untuk mendapatkan koreografi seperti yang diharapkan para pembuat film, Miles Films & KG Studio berkolaborasi dengan Xiong Xin Xin, seorang seniman bela diri, aktor, penata koreografi dan sutradara laga yang memulai karirnya sebagai salah satu body double aktor legendaris Jet Lee. Xin Xin melatih dan mengajarkan koreografi bela diri kepada para pemain. Ifa dan Xin Xin bekerjasama selama satu tahun, sejak persiapan sebelum syuting hingga selesai waktu syuting.

“Terlibatnya Xiong Xin Xin dalam film ini karena kami membutuhkan seorang yang ahli yang bisa membantu kami membentuk koreografi yang belum pernah dibuat sebelumnya di Indonesia, sudah seharusnya kita langsung mencari ahlinya agar kemampuan-kemampuan mereka dapat ditularkan disini,” ujar Ifa.

Xin Xin menekankan bentuk perkelahian yang tetap masuk akal dilakukan oleh manusia.Ia tidak menghidupkan karakter pendekar sebagai manusia yang memiliki kemampuan super, melainkan manusia yang memiliki kekuatan lebih. Misalnya, Xin Xin lebih memilih adegan melompat dari satu tempat ke tempat lain. Sebab, karakter dalam film ini adalah pendekar, bukan orang yang bisa terbang.Itulah yang kemudian menjadi dasar koreografi laga yang dibentuk untuk film ini.

Pengalaman para pemain menjalani latihan fisik selama tujuh bulan pun tak kalah menariknya. Kurikulum yang diberikan Xin Xin cukup berat. Peristiwa seperti terpukul, kena tendang, memar, luka, sudah biasa sekali.Cedera semacam itu terutama lebih banyak terjadi pada masa awal latihan dasar fighting.

Tapi, cedera tak menghalangi pemain untuk melanjutkan latihan.Meskipun tubuhnya penuh cedera, para pemain sudah tidak memikirkan rasa sakit. Mereka menganggap itu bagian dari proses. Bagi Reza, mengalami cedera merupakan hal yang pada mulanya tidak biasa menjadi sangat biasa. Bahkan Tara yang terus memainkan tongkat di tangannya tanpa memperdulikan luka-luka di telapak tangannya yang berdarah.“Manusia diciptakan untuk beradaptasi, kami bisa beradaptasi dengan cepat,” Eva menambahkan.“Saat kami belajar menggunakan sling adalah yang paling berat, badan sampai lebam-lebam,” cerita Nico.

“Kami ingin sekali ikut meningkatkan kualitas dan value sebuah film hiburan di industri film indonesia sehingga penonton benar-benar mendapatkan tontonan yang berkualitas. Dengan film ini ingin sekali genre film silat kembali menyemarakkan dunia film Indonesia,” ucap Ifa.

Film ini akan beredar di bioskop di seluruh Indonesia mulai 18 Desember 2014.

PENDEKAR TONGKAT EMAS AKHIRNYA SELESAI PROSES PEMBUATAN DAN SIAP DI LAYAR BIOSKOP MULAI 18 DESEMBER 2014
Jakarta – 25 November 2014

Kisah kependekaran lama tak muncul di industri film Indonesia. Kini, Miles Films dan KG Studio menghadirkannya kembali lewat kisah PENDEKAR TONGKAT EMAS yang terinspirasi oleh komik silat dan bercerita tentang dunia kependekaran.

“Cerita silat tentu saja kisah rekaan, tetapi ia mengangkat persoalan yang aktual dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Di dalamnya ada kisah tentang dosa yang dipendam, keserakahan, keinginan untuk berkuasa, pengkhianatan, maupun balas dendam. Itulah keunikan cerita silat,” ungkap Mira Lesmana, produser film ini.

Mira telah mempercayakan penyutradaraan film ini kepada Ifa Isfansyah, peraih predikat Sutradara Terbaik pada Festival Film Indonesia 2011 untuk film Sang Penari, yang juga penyuka dan pembaca komik silat. Sementara Riri Riza bertindak sebagai co-producer di film ini.

“Pertama ditawarkan film ini, saya tertarik banget. Sebenarnya, mau film apapun, saya akan bilang ya. Siapa yang tidak ingin bekerja dengan Mbak Mira dan Mas Riri” ujarnya antusias.

Produksi film Pendekar Tongkat Emas menghabiskan waktu yang cukup panjang dengan biaya yang besar. Dimulai dengan proses riset, penulisan, hunting lokasi, proses latihan fisik hingga syuting film yang berlangsung di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, hingga penyelesaian paska produksi, keseluruhan memakan waktu lebih dari 2 tahun dengan biaya yang mencapai 25 Milyar. KG Studio yang menjadi mitra Miles Films menyampaikan, ”Kami memilih bekerjasama dengan Miles karena membuat film berisiko cukup besar. Lebih lebih biaya produksi Pendekar Tongkat Emas termasuk ‘sangat menantang’. Oleh karena itu selain melihat isi cerita, kami juga melihat lembaga pembuatnya, dan kami yakin Miles adalah lembaga mumpuni dan tidak perlu diragukan keandalannya,” ujar Executive Producer, Agung Adiprasetyo dari KG Studio.

Pendekar Tongkat Emas adalah sebuah cerita drama yang tokoh-tokohnya adalah pendekar silat. “Ini yang perlu ditekankan. It’s a drama martial art,” kata Mira. Dalam pemilihan para pemain tersebut, para pembuat film memiliki dua opsi untuk menentukan siapa yang akan memerankan tokoh sesuai tuntutan cerita film ini. Pertama, mencari orang yang ahli bela diri kemudian diberi pelatihan akting. Kedua, mencari aktor yang dilatih bela diri. Dan opsi kedua lah yang menjadi pilihan.

Ifa merasa harus mempunyai aktor-aktor yang kuat, yang memiliki kemampuan akting dan menerjemahkan dirinya menjadi pesilat. Demi pilihan itu, maka para aktor harus dilatih bela diri. “Dari cerita dan karakter yang telah dibangun, saya sangat membutuhkan aktor profesional,” kata Ifa.

Maka, dipilihlah aktor-aktor untuk membintangi film Pendekar Tongkat Emas ini. Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Tara Basro, Prisia Nasution, Darius Sinathrya dan artis senior Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Landung Simatupang dan Whani Darmawan.

Untuk mendapatkan koreografi seperti yang diinginkan para pembuat film, Ifa, Mira dan Riri memutuskan untuk berkolaborasi dengan Xiong Xin Xin, seorang seniman bela diri, aktor, penata koreografi dan sutradara laga ternama asal Hongkong. “Kami membutuhkan ahli yang tidak saja terampil meramu adegan laga dengan standar yang tinggi, namun juga menguasai berbagai teknik pengambilan gambar adegan laga yang rumit dan ber-resiko tinggi, Xiong Xin Xin telah melakukan ini lebih dari 30 tahun” ujar Riri.

Film Pendekar Tongkat Emas, kini telah rampung. Ifa yang minggu lalu baru saja kembali dari Bangkok untuk menyelesaikan tahap akhir mixing suara bersama Erwin Gutawa, penata musik film ini, menyampaikan, “Semua yang saya bayangkan tentang film ini telah terwujud, saya puas sekali dengan hasilnya. Dengan musik Erwin Gutawa, setiap shot yang saya buat menjadi lebih berfungsi, saya jadi lebih merasakan setiap detailnya.”

Mira juga memutuskan untuk mengembangkan Intellectual Property (IP) film ini. Pendekar Tongkat Emas tak hanya berupa film untuk bisa dinikmati oleh masyarakat pecinta film, tapi juga beberapa Intelectual Property Product yang tak kalah menariknya,“Kami menerbitkan buku behind the scene (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama), komik Lembah Angin (diterbitkanoleh m&c), merchandise menarik bekerjasama dengan TMS Asia serta game app yang dibuat oleh anak muda kreatif dari Altermyth yang aplikasinya bisa di download secara free di www.nampol.com,” ujar Mira. “Kita sering bicara tentang potensi Industri Kreatif Indonesia, ini adalah salah satu cara kami mencoba mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia,” lanjut Mira antusias.

Tak hanya itu, film Pendekar Tongkat Emas juga mengeluarkan original soundtrack dengan theme song berjudul Fly My Eagle, yang dinyanyikan oleh diva internasional, Anggun. Lagu yang diaransemen oleh Erwin Gutawa ini, diciptakan oleh Gita Gutawa dengan lirik oleh Mira Lesmana. Produksi lagu ini langsung ditangani oleh Mira Lesmana & Erwin Gutawa yang mendistribusikannya melalui iTunes dan Amazon.com.

Mengenai kolaborasi Aggun dalam theme song film Pendekar Tongkat Emas ini, sang diva ini pun berkomentar, “Ada beberapa elemen yang membuat saya tertarik menyanyikan theme song ini, yaitu adanya Mira Lesmana, dan Christine Hakim yang amat saya respect juga adanya talenta dari aktor-aktor muda Indonesia yang berperan di film ini. Saya selalu tergerak untuk mendukung perfilman lokal. Kita harus dukung seni dan seniman Indonesia. Ditambah lagi lagunya juga sangat bagus.”

Kabar yang juga menggembirakan adalah bahwa film Pendekar Tongkat Emas telah memiliki International Sales Agent. Perusahaan distribusi film Internasional BACKUP MEDIA dari Perancis memutuskan untuk membawa film Pendekar Tongkat Emas ke pasar dunia, terutama Eropa. “Kami yakin, Eropa adalah tempat di mana film seperti Pendekar Tongkat Emas bisa memiliki peluang besar untuk dinikmati penonton'” ujar Joel Thibout, salah satu pendiri BACKUP Media.

Antusisme dan dukungan menyambut hadirnya film Pendekar Tongkat Emas tak hanya datang dari masyarakat dan para pecinta film, tapi juga datang dari beberapa perusahaan besar dan brand terkemuka yang dengan bangganya mendukung penuh film ini, seperti BNI, NESCAFE, SIMPATI, ALFAMART, GARUDA INDONESIA, ALLIANZ, DWIDAYA TOUR dan SAMSUNG. “Senang sekali mendapat banyak dukungan untuk membantu mempromosikan film ini, agar khalayak ramai mengetahui kehadiran film Pendekar Tongkat Emas di Bioskop,” kata Mira gembira.

“Film ini akan memberikan angin segar dan sesuatu yang berbeda bagi publik Indonesia dan penonton benar-benar akan mendapatkan tontonan yang berkualitas,” ujar Ifa.

Film Pendekar Tongkat Emas akan beredar di bioskop di seluruh Indonesia mulai 18 Desember 2014.

PENDEKAR TONGKAT EMAS SIAP TAYANG DI LAYAR BIOSKOP MULAI 18 DESEMBER 2014
Jakarta – 11 Desember 2014

Kisah kependekaran lama tak muncul di industri film Indonesia. Kini, Miles Films dan KG Studio menghadirkannya kembali lewat kisah PENDEKAR TONGKAT EMAS yang terinspirasi oleh komik silat dan bercerita tentang dunia kependekaran.

“Cerita silat tentu saja kisah rekaan, tetapi ia mengangkat persoalan yang aktual dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Di dalamnya ada kisah tentang dosa yang dipendam, keserakahan, keinginan untuk berkuasa, pengkhianatan, maupun balas dendam. Itulah keunikan cerita silat,” ungkap Mira Lesmana, produser film ini.

Mira telah mempercayakan penyutradaraan film ini kepada Ifa Isfansyah, peraih predikat Sutradara Terbaik pada Festival Film Indonesia 2011 untuk film Sang Penari, yang juga penyuka dan pembaca komik silat. Sementara Riri Riza bertindak sebagai co-producer di film ini.

“Pertama ditawarkan film ini, saya tertarik banget. Sebenarnya, mau film apapun, saya akan bilang ya. Siapa yang tidak ingin bekerja dengan Mbak Mira dan Mas Riri” ujarnya antusias.

Produksi film Pendekar Tongkat Emas menghabiskan waktu yang cukup panjang dengan biaya yang besar. Dimulai dengan proses riset, penulisan, hunting lokasi, proses latihan fisik hingga syuting film yang berlangsung di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, hingga penyelesaian paska produksi, keseluruhan memakan waktu lebih dari 2 tahun dengan biaya yang mencapai 25 Milyar. KG Studio yang menjadi mitra Miles Films menyampaikan, ”Kami memilih bekerjasama dengan Miles karena membuat film berisiko cukup‎ besar. Lebih lebih biaya produksi Pendekar Tongkat Emas termasuk ‘sangat menantang’. Oleh karena itu selain melihat isi cerita, kami juga melihat lembaga pembuatnya, dan kami yakin Miles adalah lembaga mumpuni dan tidak perlu diragukan keandalannya,” ujar Executive Producer, Agung Adiprasetyo dari KG Studio.

Pendekar Tongkat Emas adalah sebuah cerita drama yang tokoh-tokohnya adalah pendekar silat. “It’s a drama martial art,” kata Mira. Dalam pemilihan para pemain tersebut, para pembuat film  memiliki dua opsi untuk menentukan siapa yang akan memerankan tokoh sesuai tuntutan cerita film ini.  Pertama, mencari orang yang ahli bela diri kemudian diberi pelatihan akting. Kedua, mencari aktor yang dilatih bela diri. Dan opsi kedua lah yang menjadi pilihan.

Ifa merasa harus mempunyai aktor-aktor yang kuat, yang memiliki kemampuan akting dan menerjemahkan dirinya menjadi pesilat. Demi pilihan itu, maka para aktor harus dilatih bela diri. “Dari cerita dan karakter yang telah dibangun, saya sangat membutuhkan aktor profesional,” kata Ifa.

Maka, dipilihlah aktor-aktor untuk membintangi film Pendekar Tongkat Emas ini. Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Tara Basro, Prisia Nasution, Darius Sinathrya dan artis senior Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Landung Simatupang dan Whani Darmawan.

Untuk mendapatkan koreografi seperti yang diinginkan para pembuat film, Ifa, Mira dan Riri memutuskan untuk berkolaborasi dengan Xiong Xin Xin, seorang seniman bela diri, aktor, penata koreografi dan sutradara laga ternama asal Hongkong. “Kami membutuhkan ahli yang tidak saja terampil meramu adegan laga dengan standar yang tinggi, namun juga menguasai berbagai teknik pengambilan gambar adegan laga yang rumit dan ber-resiko tinggi, Xiong Xin Xin telah melakukan ini lebih dari 30 tahun” ujar Riri.

Film Pendekar Tongkat Emas, kini telah rampung. Setelah menyelesaikan tahap akhir mixing suara bersama Erwin Gutawa, penata musik film ini, Ifa merasa puas. “Semua yang saya bayangkan tentang film ini telah terwujud. Dengan musik Erwin Gutawa, setiap shot yang saya buat menjadi lebih berfungsi, saya jadi lebih merasakan setiap detailnya.”

Mira juga memutuskan untuk mengembangkan Intellectual Property (IP) film ini. Pendekar Tongkat Emas tak hanya berupa film untuk bisa dinikmati oleh masyarakat pecinta film, tapi juga beberapa Intelectual Property Product yang tak kalah menariknya,“Kami menerbitkan buku behind the scene (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama), komik Lembah Angin (diterbitkanoleh m&c), merchandise menarik bekerjasama dengan TMS Asia serta game app yang dibuat oleh anak muda kreatif dari Altermyth yang aplikasinya bisa di download secara free di www.nampol.net,” ujar Mira. “Kita sering bicara tentang potensi Industri Kreatif, ini adalah salah satu cara kami mencoba mengembangkan ekonomi dan industri kreatif Indonesia,” lanjut Mira antusias.

Tak hanya itu, film Pendekar Tongkat Emas juga mengeluarkan original soundtrack dengan theme song berjudul Fly My Eagle, yang dinyanyikan oleh diva internasional, Anggun. Lagu yang diaransemen oleh Erwin Gutawa ini, diciptakan oleh Gita Gutawa dengan lirik oleh Mira Lesmana. Produksi lagu ini langsung ditangani oleh Mira Lesmana & Erwin Gutawa yang mendistribusikannya melalui iTunes dan Amazon.com.

Mengenai kolaborasi Aggun dalam theme song film Pendekar Tongkat Emas ini, sang diva ini pun berkomentar, “Ada beberapa elemen yang membuat saya tertarik menyanyikan theme song ini, yaitu adanya Mira Lesmana, dan Christine Hakim yang amat saya respect juga adanya talenta dari aktor-aktor muda Indonesia yang berperan di film ini. Saya selalu tergerak untuk mendukung perfilman lokal. Kita harus dukung seni dan seniman Indonesia. Ditambah lagi lagunya juga sangat bagus.”

Kabar yang juga menggembirakan adalah bahwa film Pendekar Tongkat Emas telah memiliki International Sales Agent. Perusahaan distribusi film Internasional BACKUP MEDIA dari Perancis memutuskan untuk membawa film Pendekar Tongkat Emas ke pasar dunia, terutama Eropa. “Kami yakin, Eropa adalah tempat di mana film seperti Pendekar Tongkat Emas bisa memiliki peluang besar untuk dinikmati penonton'” ujar Joel Thibout, salah satu pendiri BACKUP Media.

Antusisme dan dukungan menyambut hadirnya film Pendekar Tongkat Emas tak hanya datang dari masyarakat dan para pecinta film, tapi juga datang dari beberapa perusahaan besar dan brand terkemuka yang dengan bangganya mendukung penuh film ini, seperti BNI, NESCAFE, SIMPATI, ALFAMART, GARUDA INDONESIA, DWIDAYA TOUR, ALLIANZ, P.T. UNILEVER INDONESIA dan SAMSUNG. “Senang sekali mendapat banyak dukungan untuk membantu mempromosikan film ini, agar khalayak ramai mengetahui kehadiran film Pendekar Tongkat Emas di Bioskop,” kata Mira gembira.

Mengenai dukungan dan partisipasinya di film Pendekar Tongkat Emas, para sponsor ini memberikan memberikan pernyataan yang sangat postif yang menunjukkan kesungguhannya mendukung film ini.

“Untuk film Pendekar Tongkat Emas, BNI ingin ikut dalam upaya mengembangkan karya anak negeri demi kemajuan industri kreatif bangsa, selain itu BNI juga ingin menjadi bagian dari eksplorasi potensi daerah (baik wisata ataupun pertumbuhan ekonomi) terutama daerah Sumba dimana shooting film ini dilakukan, karena kami juga hadir memiliki Kantor Layanan di wilayah tersebut,” ucap Tribuana Tunggadewi, Corporate Secretary BNI.

Film Pendekar Tongkat Emas juga turut disponsori oleh Nescafe, salah satu produk kopi favorit dunia. “NESCAFE ingin mendukung kemajuan perfilman Indonesia sehingga para sineas film Indonesia bisa lebih banyak menghasilkan karya terbaik anak bangsa yang berkualitas international,” ujar Brand Manager NESCAFE, Hisma Pratanti.

Begitu juga dengan Alfamart, Markom Manager Alfamart, Rani Wijaya mengatakan, “Alfamart Vaganza adalah salah satu campaign marketing Alfamart, dimana kami akan terus berkontribusi terhadap dunia seni dan budaya Indonesia. Film Pendekar Tongkat Emas banyak mengangkat persoalan kehidupan dan perjuangan, hal ini sejalan dengan keinginan kami ketika memutuskan berpartisipasi dalam film ini, yaitu film itu harus memberikan inspirasi yang terbaik untuk para penontonnya, terutama konsumen Alfamart.”

Sementara menurut Erik Meijer, Direktur Pemasaran dan Penjualan PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk., Garuda Indonesia berkomitmen untuk terus mempromosikan segala yang terbaik dari Indonesia melalui layanan khasnya, Garuda Indonesia Experience, dan bekerja sama dengan Mira Lesmana melalui film Pendekar Tongkat Emas ini adalah kesempatan yang sangat baik, tidak hanya untuk mendukung perkembangan film nasional, tetapi juga untuk semakin memperkenalkan Indonesia kepada dunia.

“Selain itu, salah satu fokus Garuda Indonesia saat ini adalah mengembangkan destinasi wisata di Timur Indonesia. Lokasi pembuatan film di Sumba, Nusa Tenggara Timur – yang juga dilayani oleh penerbangan reguler kami, tentu akan semakin dikenal masyarakat luas. Selama proses pembuatan film, awak produksi dan semua bintang film ini juga mendapat kesempatan terbang dan merasakan kenyamanan maskapai kebanggan bangsa ini.

Film Pendekar Tongkat Emas akan beredar di bioskop di seluruh Indonesia mulai 18 Desember 2014.




Filmmakers

Ifa Isfansyah Sutradara

Ifa Isfansyah adalah salah satu Sutradara Film Indonesia yang cukup produktif membuat karya Film. Sutradara Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini merupakan pendiri komunitas film independen bernama Fourcolours Films (2001) yang aktif memproduksi film-film pendek. Film pendek pertamanya, Air Mata Surga. Tahun 2002, Ifa Isfansyah membuat film pendek berikutnya, Mayar, yang juga berhasil meraih penghargaan SET Award untuk penata kamera terbaik dan penata artistik terbaik pada Festival Film-Video Independen Indonesia 2002 dan berhasil masuk di beberapa festival termasuk Roterdam dan Hamburg Internationall Film Festival.

Tahun 2006, ia kembali membuat film pendek Harap Tenang, Ada Ujian! dan berhasil memenangkan penghargaan di beberapa festival penting di Indonesia termasuk menjadi film pendek terbaik di Jogja NETPAC Asian Film Festival, Festival Film Pendek Konfiden dan Festival Film Indonesia 2006, dan berhasil masuk di sesi international competition Short Shorts Film Festival 2007, Tokyo, Jepang dan Alamaty Film Festival di Kazakhstan serta Three Eyes Film Festival di Mumbai. Tahun 2007, ia memproduksi film pendek Setengah Sendok Teh. Ifa menjadi salah satu sineas Asia yang terpilih untuk mengikuti Asian Film Academy di Pusan International Film Festival 2006 dan berhasil memenangkan Scholarship Award di Fakultas Film dan Video Dongseo University/Im Kwon Taek Film School, Korea. Sampai Desember 2008 ia tinggal di Pusan, Korea Selatan.

Tahun 2009, Ifa Isfansyah mengawali debut film panjang pertamanya, Garuda di Dadaku (2008). Kemudian Sang Penari (2011) yang membawanya meraih Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik dalam FFI 2011. Di tahun 2012, ia mengangkat film tema anak, Ambilkan Bulan (2012) dan 9 Summers 10 Autumns (2013). Di tahun 2014, Ifa menunjukkan kemampuannya menyutradarai sebuah film laga Pendekar Tongkat Emas bekerjasama dengan Miles Films.

Mira Lesmana Produser

Mira Lesmana berkuliah di Institut Kesenian Jakarta mengambil jurusan penyutradaraan, dan kemudian memilih menjadi Produser film sebagai karir utamanya. Kritikus film menempatkannya pada jajaran atas sebagai produser yang berpengaruh di Indonesia dan berpendapat seorang Mira Lesmana sulit ditebak aksinya, karena memproduksi rangkaian film yang masing-masingnya saling berbeda. Mulai dari yang sukses besar di box office nasional seperti ‘Petualangan Sherina’ dan ’Ada Apa Dengan Cinta’, sampai yang menjadi sasaran para kritikus film seperti ’Eliana,Eliana’. Dari project film feature dengan dana terbatas seperti ’Untuk Rena’, sampai ’GIE’ yang merupakan produksi film besar. Mira Lesmana juga tidak sungkan merangkul sutradara baru berbakat, seperti yang dilakukannya pada film ’Garasi’ arahan sutradara Agung Sentausa. Setelah memproduksi sebuah film perjalanan ’Tiga Hari Untuk Selamanya’ (2007), pada tahun 2008 Ia mengangkat sebuah cerita dari novel bestseller karya Andrea Hirata, “LASKAR PELANGI”, dan memecahkan rekor film Indonesia dengan jumlah penonton bioskop terbanyak yaitu 4,6 juta penonton. Sekuel film tersebut, “SANG PEMIMPI”, dirilisnya pada tahun 2009, dan telah ditayangkan di lebih dari 20 negara di 5 benua.

Setelah 3 tahun absen memproduksi film layar lebar dengan kesibukannya menggelar panggung Musikal Laskar Pelangi, mendekati penghujung tahun 2012 Mira Lesmana kembali menghadirkan sebuah karya film layar lebar berjudul ”Atambua 39 ⁰Celcius”. Di tahun 2013, bersama denga Riri Riza, Mira Lesmana hadir lewat film “Sokola Rimba”. Dan kini, bersama sutradara Ifa Isfansyah, Mira mewujudkan impiannya memproduksi film drama martial arts berjudul Pendekar Tongkat Emas.

Riri Riza Co-Produser

Riri Riza lahir pada tahun 1970, lulusan Fakultas Film dari Institut Kesenian Jakarta. Ia berkesempatan melanjutkan studinya pada program Master Penulisan Skenario di Royal Holloway, University of London, Inggris. Film pendeknya SONATA KAMPUNG BATA, menerima penghargaan di festival film pendek di Oberhausen, Jerman, yang kemudian juga ditayangkan di beberapa festival di Asia, Eropa dan Amerika.

Pada tahun 1996 Ia ikut menyutradarai sebuah film independent berjudul KULDESAK yang ditayangkan di beberapa festival film di Rotterdam, Deauville, Singapura dan di Filipina. Film feature pertamanya dirilis pada tahun 2000, sebuah drama musical berjudul PETUALANGAN SHERINA yang sukses bertengger di jajaran box office dan membuka jalan bagi kebangkitan industri film Indonesia. Pada 2002, ia ikut menulis dan menyutradarai ELIANA,ELIANA yang menerima penghargaan Young Cinema Award dan Netpac / Fipresci Jury Awards di Festival Film Internasional Singapura 2002.

Ia menulis dan menyutradari GIE yang dirilis pada tahun 2005 dan memenangkan penghargaan untuk Sinematografi Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005, Special Jury Prize pada Festival Film Internasional Singapura 2006, dan Special Jury Prize di Festival Film Internasional Asia Pasifik Ke-51 tahun 2006. Masih di tahun 2005, Riri Riza menyutradarai film UNTUK RENA. Ia memenangkan Best Director Award di ajang Festival Film Independen Internasional Brussel di tahun 2008 untuk karyanya, 3 HARI UNTUK SELAMANYA. Film LASKAR PELANGI yang dirilisnya di akhir tahun 2008 merupakan kesuksesan fenomenal dan memenangkan beberapa penghargaan bergengsi, diantaranya SIGNIS Award dari Festival Film Internasional di Hong Kong tahun 2009.

Bersama Mira Lesmana, Jay Subyakto, Toto Arto, Hartati dan Erwin Gutawa, Riri berhasil menghidupkan panggung musikal  Indonesia dengan menyutradarai Musikal Laskar Pelangi yang telah digelar di Kota Jakarta, Yogyakarta, bahkan di Singapura, sejak tahun 2010. Tahun 2012 Riri hadir di layar lebar lewat film ”Atambua 39 ⁰Celcius” dan film “Sokola Rimba” di tahun 2013. Kini, bersama partnernya di Miles Films, ia memproduksi film Pendekar Tongkat Emas dengan Ifa Isfansyah sebagai sutradaranya.

Gunnar Nimpuno Sinematografi

Gunnar Nimpuno menimba ilmu di Jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Teknologi Bandung sebelum melanjutkan ke jenjang S2 untuk Master of Experimental Media and Cinematography di UK-Northern Media School. Ia lalu mendapat kesempatan sebagai Asisten Sutradara 2 untuk film ‘Bendera’ (2002) arahan Nan T. Achnas, kemudian sebagai Director of Photographer (DOP) untuk beberapa film pendek seperti ‘Hullahoop Soundings’ (2008), ‘Drupadi’(2008) dan ‘Gay/Tidak’ (2009). Dalam film ‘Krazy Crazy Krezy’ (2009) karya Rako Prijanto Ia pertama kali memegang peranan sebagai DOP untuk film layar lebar. Gunnar yang akran dipanggil Unay adalah salah satu sinematografer handal di perfilman Indonesia. Unay pernah menggarap film terkenal, seperti Sang Pemimpi, Modus Anomali, Rumah Dara, The Killers, Atambua 39 ⁰Celcius dan Sokola Rimba.

Jujur Prananto Screenplay

Jujur Prananto adalah penulis skenario film Indonesia. Ia mengawali kariernya sebagai penulis cerpen yang karya-karyanya beberapa kali muncul di Kumpulan Cerpen Terbaik Kompas. Namanya sebagai penulis skenario melejit saat ia terlibat dalam pembuatan film Ada Apa dengan Cinta (2002). Atas karyanya di film tersebut, ia dianugerahi trofi “Skenario Terpuji” dari Festival Film Bandung 2002. Alumni Sinematografi, Institut Kesenian Jakarta ini memang sudah aktif menulis cerpen sejak masih kuliah. Beberapa cerpennya dikembangkan menjadi skenario film televisi maupun layar lebar, antara lain Parmin, Kado Istimewa, Tamu dari Jakarta, Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari dan Doa yang Mengancam. Skenario “Parmin” mendapat predikat best teleplay di Festival Sinetron Indonesia 1994, sedangkan “Doa yang Mengancam” mendapat predikat skenario terpuji dalam FFB 2008, penghargaan kedua yang diterimanya setelah skenario “Ada Apa dengan Cinta?” memperoleh predikat yang sama tahun 2002. Saat ini ia masih tetap aktif menulis skenario film televisi dan layar lebar.

Seno Gumira Ajidarma Screenplay

Seno Gumira Ajidarma adalah penulis dari generasi baru di sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam, Wisanggeni—Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola tak berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja. Ia juga terkenal karena dia menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu.

Sejak kecil, karena terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, dia pun mengembara mencari pengalaman. Tertarik puisi-puisi karya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Teman-teman Seno mengatakan Seno sebagai penyair kontemporer. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison.Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater. Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang[ (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.

Erwin Gutawa Music

Erwin Gutawa bukanlah nama yang asing dalam penyelenggaraan konser musik di Indonesia. Ia adalah seorang musisi yang lengkap sebagai seorang pemain musik, composer, arranger, conductor, orkestrator, produser album/single juga produser konser-konser besar di Indonesia. Keterlibatannya di industri musik Indonesia menghasilkan berbagai album/single dari penyanyi antara lain Iwan fals, Chrisye, Januari Christy, Fariz RM, Atiek CB, Siti nurhaliza, Reza, Sheila majid, Dewa, Rossa, Once, Ari lasso, Agnes monica, Afgan, Gita gutawa, dsb . Dan dari karya-karyanya yang indah, telah meraih berbagai penghargaan di dalam dan diluar negri. Ia terpilih sebagai ‘The Best Arranger: di Festival Musik Internasional di Finlandia (1992) “Midnight Sun Song Festival”, dan sampai saat ini, hampir setiap tahun ia terpilih sebagai ‘Penata Musik Terbaik atau Produser Terbaik’ di Anugerah Musik Indonesia dalam album/single penyanyi-penyanyi di Indonesia.

Selain memproduseri konser, ia membentuk sebuah orkestra bernama “Erwin Gutawa Orkestra”. Konser yang dibuatnya selalu berlangsung sukses dan penampilannya sangat dinantikan penggemar musik Indonesia seperti di antaranya Konser Chrisye ‘Sendiri’ 1994, ‘Badai Pasti Berlalu’ 2000,’Dekade’ 2003 ; Konser ‘Rockestra’ 2000 ; Konser Krisdayanti, ’KD’ 2001, ‘KD 1530’ 2005 ; Konser ‘EG’ 2002, konser ‘Salute to Koesplus /Bersaudara’ 2005 ; Konser Ruth Sahanaya’ 2005; Konser ‘3 Diva’ 2006, ‘Konser Persembahan Rossa 2009’, ‘Konser Kotak Musik Gita gutawa’ 2010. Bahkan kemudian ia dipercaya untuk menjadi music director dan conductor London Symphony Orchestra di Royal Albert Hall, London, dalam konser Siti Nurhaliza pada tahun 2005. Beberapa proyek yg ditanganinya telah membuatnya bekerja sama dengan berbagai orkestra besar di luar negeri. Pada tahun 2007 ia dipercaya menangani musikal terbesar di Malaysia yaitu “P.Ramlee The Musical “ sebagai Music Director,Arranger & Conductor. Keterlibatannya dalam musical P.Ramlee ini , telah membuahkan penghargaan untuknya sebagai “The Best Music and Sound Design dalam “6th Annual BOH Cameronian Arts Awards 2007 di Malaysia. Dan tentu saja saat ini ia menggarap musikal yang paling dinanti di Indonesia, MUSIKAL LASKAR PELANGI!

Xiong Xin Xin Action Director

Xiong Xin Xin adalah seniman bela diri, aktor, pemeran pengganti, penata koreografi laga dan sutradara laga kelahiran Guangxi, Tiongkok. Sejak usia belia, ia sering menjuarai berbagai kompetisi wushu di negara asalnya. Xin Xin memasuki industri film setelah diajak empu pembuat film laga Hong Kong, Lau Kar Leung. Pada waktu itu ia didapuk menjadi pemeran pengganti aktor Jet Li dalam film Martial Arts of Shaolin (1986). Setelah pindah ke Hongkong, Xin Xin dengan cepat dikenal sebagai stuntman. Pada 1991, ia kembali menjadi pemeran pengganti Jet Li dalam film Once Upon a Time in China. Dalam film garapan sutradara Tsui Hark tersebut, ia sekaligus bertindak sebagai asisten sutradara laga dan aktor. Xin Xin terlibat dalam sekuel film tersebut selama tiga tahun berturut-turut.

Sepanjang karir filmnya, Xin Xin juga membintangi puluhan film laga. Salah satunya adalah film yang ia bintangi bersama Donnie Yen, Heroes Among Heroes (1993), yang dibesut sutradara Hong Kong, Yuen Wo Ping. Ketika Tsui Hark memulai debut Hollywood, Xin Xin diajak menjadi sutradara laga film Double Team (1997). Dalam film itu ia juga terlibat adegan perkelahian dengan aktor utamanya, Jean-Claude Van Damme. Sebagai penata koreografi laga, Xin Xin mendapat pujian dalam film produksi Hollywood, The Musketeers (2001), garapan sutradara Peter Hyams.

Eros Eflin Penata Artistik

Pria kelahiran Padang Panjang ini pernah mengenyam pendidikan Seni Rupa di IKJ ini memulai karirnya sebagai art director lewat iklan dan video klip, sebelum akhirnya diajak bekerjasama oleh Riri Riza dalam Petualangan Sherina. Setelah itu sejumlah film ikut digarapnya, antara lain Rumah Ke Tujuh, Brownies, Mirror dan Untuk Rena, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Negeri 5 Menara, Sang Penari, 9 Summers 10 Autums, Laura Marsha, Hello Goodbye, Atambua 39 ⁰Celcius dan Sokola Rimba.

Chitra Subijakto Custome

Chitra Subijakto adalah seorang fashion stylist Indonesia. Ia menangani wardrobe untuk film atau stylist untuk artis. Lulusan sarjana Manajemen Keuangan Perbankan Perbankan dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Perbankan Indonesia. Kecintaan pada dunia fesyen dieksplorasinya dengan berkreasi dan sebagai fashion stylist untuk sebuah majalah remaja.  Ia kemudian merambah menjadi penata busana untuk video klip Lagu ‘Bendera’ (Cokelat) dan film layar lebar seperti ‘Brownies’ (2004),  ‘Untuk Rena’ (2005), ‘Under The Tree‘ (2008) dan’ Laskar Pelangi’ (2008), Sang Pemimpi (2009), Negeri 5 Menara (2012) serta Musikal Laskar Pelangi. Chitra juga telah dipercaya sebagai Image Conceptor untuk beberapa grup band Indonesia seperti Nidji, Peter Pan, Melly Goeslaw dan Gita Gutawa, dan saat ini aktif sebagai Creative & Buyer Consultant untuk gerai Alun-alun Indonesia yang menonjolkan produk-produk sandang kontemporer dari pelosok tanah air.

Jerry Octavianus Make Up

Belajar menjadi seorang make up stylist ketika sering main teater. Pengalaman pertama di film adalah membantu Slamet Rahardjo di film ‘Telegram’. Jerry juga sempat menjadi make up stlist di beberapa cideo klip dan ikut terlibat dalam FTV produksi Miles Films yang berjudul Berkisar Merah. Berikut film film yang pernah ia garap Pendekar Tongkat Emas, Java Heat, 9 Summers 10 Autumns, Negeri 5 Menara, Sang Pemimpi, Laskar Pelangi

W. Ichwandiardono Editor

Lahir di Pekalongan tahun 1971, W. Ichwandiardono mendalami ilmu TV Editing di Fakultas Film Televisi di Institut Kesenian Jakarta. Ia menjajal kemampuannya dengan mengerjakan sejumlah animasi dan editing iklan, film dokumenter serta video klip sebelum akhirnya mengerjakan editing untuk film layar lebar perdananya, ‘Lovely Luna’ (2004), disusul dengan ‘Ruang’ (2005) dan ‘Badai Pasti Berlalu’(2006), Ruma Maida (2009), Sang Pemimpi (2009), Lovely Man (2011), Atambua 39 ⁰Celcius (2012), Mika (2013). Hasil kerjanya dalam film box office nasional ‘Laskar Pelangi’ (2008) dinominasikan dalam kategori Best Editing di Asian Film Awards tahun 2008.

Satrio Budiono Penata Suara

Lulusan FISIP Unpar jurusan Administrasi Niaga ini pertama kali berkecimpung dalam bidang produksi film di Petualangan Sherina (1998). Sejak saat itu ia jatuh cinta dengan dunia film, dan telah menjadi penata suara di lebih dari 30 film layar lebar. Pria yang kerap dipanggil Yoyo ini, ternyata juga adalah seorang anak band ketika masih SMA dan kuliah, dan hal itu memberikan keuntungan sendiri bagi profesinya saat ini. “Basic-nya saya dulu nge-band, jadi saya tahu dasar dari penataan suara,” jelasnya. Selebihnya, ilmu tentang penataan suara dalam sebuah film ia pelajari secara otodidak. Sederetan judul film terkenal sudah digarapnya. Sebut saja Ada Apa dengan Cinta, Arisan, Gie, Berbagi Suami, Fiksi, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Sang pencerah, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Habibie & Ainun.

Yusuf Patawari Penata Suara

Yusuf Patawari memulai karirnya di industri perfilman Indonesia sebagai boom operator untuk film Gie. Baru kemudian tahun 2007 ia mulai menjadi sound designer/Recordist untuk beberapa film ternama, seperti D’Bijis, Merah itu Cinta, Fiksi, Love in Perth, Minggu Pagi di Victoria Park, Modus Anomali, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Sang Kiai.  Pada tahun 2007 Yusuf masuk menjadi salah satu nominator Penata Suara Terbaik FFI untuk film Merah Itu Cinta, dilanjutkan tahun berikutnya untuk film Fiksi.

Tentang Miles Films

MILES Films adalah rumah produksi yang didirikan pada bulan Maret 1995 dan saat ini dipimpin oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. Reputasi MILES Films langsung melejit di tahun 1996 berkat kesuksesan mereka memproduksi 14 episode doku-drama berjudul ANAK SERIBU PULAU.

Di akhir tahun 1999, dengan mengindahkan pesimisme masyarakat akan perfilman Indonesia, MILES Films mulai menempuh petualangan baru, memproduksi film layar lebar. Debut mereka bertajuk PETUALANGAN SHERINA, sebuah musikal anak-anak arahan sutradara Riri Riza. Film tersebut dirilis pada tahun 2000 dan segera menuai kesuksesan fenomenal hingga mencapai 1,6 juta penonton di Indonesia, di mana saat itu sudah 25 tahun masyarakat memandang perfilman lokal dengan sebelah mata.

Tahun 2002, MILES Films kembali merilis ADA APA DENGAN CINTA? Yang disutradarai pembuat film muda Rudi Soedjarwo. Terjualnya 2,7 juta tiket film ini di loket box office membuatnya tercatat sebagai film yang berhasil mengajak penonton muda Indonesia kembali berkunjung ke teater bioskop.

Masih di tahun 2002, MILES Films bekerjasama dengan I Sinema dalam pembuatan dan perilisan sebuah film digital arahan sutradara Riri Riza berjudul ELIANA ELIANA yang menuai pujian banyak kritikus film dan diputar di banyak Festival Film Internasional. Termasuk penghargaan federasi kritikus film internasional FIPRESCY.

Sepanjang 2003 hingga 2007 Miles memproduksi film film layar lebar berkualitas yang juga diminati penonton lokal maupun Festival Film Internasional. Seperti GIE (2005), Garasi dan Untuk Rena (2006), 3 Hari Untuk Selamanya (2007). LASKAR PELANGI (2008) dan SANG PEMIMPI (2009) yang disutradarai Riri Riza menjadi sangat fenomenal dengan memecahkan rekor film lokal dengan penonton terbanyak hingga mencapai 4.7 juta penonton bioskop dalam kurun waktu kurang dari 4 bulan. Laskar Pelangi diputar di lebih dari 20 festival internasional di 5 benua, dan meraih berbagai penghargaan bergengsi.

Pada tahun 2010 dengan bendera Miles Productions, Miles berhasil menggelar pertunjukan spektakuler Musikal Laskar Pelangi dan mengulangi kesuksesan kedua di tahun 2011 dengan Musikal Laskar Pelagi Sesi II hingga membawa Musikal Laskar Pelangi tersebut ke Esplanade, Singapura di tahun yang sama.

Pada tahun 2012, MILES Films hadir kembali lewat film ATAMBUA 39 ⁰ CELCIUS. Film ini diundang pada sesi kompetisi di Tokyo International Film Festival 2012, International Film festival Rotterdam 2013, CINEMASIE – Vesoul Asian Film Festival 2013 dan ASEAN International Film Festival & Awards (AIFFA) 2013 dimana Riri Riza mendapat penghargaan sutradara terbaik.

Di akhir tahun 2013, MILES Films merilis film SOKOLA RIMBA yang diangkat dari buku Sokola Rimba karya Butet Manurung. Kini, Miles Films menghadirkan sebuah film dengan genre berbeda lewat film PENDEKAR TONGKAT EMAS yang disutradarai Ifa Isfansyah.

Tentang KG Studio

KG Studio adalah salah satu entitas Kompas Gramedia yang lahir tahun 2011. Selain bergerak di bidang perfilman, KG Studio juga membuat berbagai konsep ide dan memberi supervisi dalam proses produksi beberapa proyek drama yang ditayangkan KompasTV.

Kiprah pertama KG Studio untuk drama dimulai dengan serial berjudul “Duet”. Selain itu, KG Studio juga memproduksi “Antologi Kriminal”, serangkaian film televisi yang memiliki tema kriminal sebagai benang merahnya. Melanjutkan kesuksesan “Antologi Kriminal”, diproduksi “Antologi Hukum” yang diperankan oleh bintang-bintang terbaik Indonesia.

Keterlibatan KG Studio dalam perfilman Indonesia dimaksudkan untuk memberi kontribusi baru terhadap industri kreatif khususnya perfilman nasional dan juga menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

KG Studio didirikan atas prakarsa Chief Executive Officer (CEO) Kompas Gramedia, Agung Adiprasetyo dan bergerak di bawah pimpinan Bimo Setiawn sebagai Director Group of TV Kompas Gramedia. Dalam usianya yang masih muda, KG Studio menggandeng rumah produksi untuk menghasilkan beberapa film, yaitu “Negeri 5 Menara”, “Garuda di Dadaku 2″, “Sang Penari” yang selain meraih 3 piala Citra, juga berhasil meraih penghargaan Film Terbaik FFI tahun 2011, “Lima Elang”, “Cinta dalam Kardus”, sebuah film pertama yang merupakan 100% produksi KG Studio.

Tahun 2014 ini, untuk pertama kalinya KG Studio bekerjasama dengan Miles Films memproduksi fim “Pendekar Tongkat Emas”. Film bergenre drama martial arts ini dibintangi oleh Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Tara Basro, Christine Hakim, dengan Ifa Isfansyah sebagai sutradara dan produser Mira Lesmana.

Cast

Dara Eva Celia

Pertama kali memulai akting Eva berusia 8 tahun. Saat itu ia bermain sebagai bintang tamu dalam sebuah FTV bersama Adjie Massaid, Ayu Azhari, serta ibunya, Sophia Latjuba. Eva juga pernah terpilih sebagai pemain terbaik saat bermain dalam film "Out of The Smoke", sebuah film pendek yang diikutsertakan pada High/Scope Junior High School Festival 2006, saat ia masih sekolah di High Scope. Ia memulai debutnya di sinetron yang juga mengorbitkan namanya lewat sebuah sinetron berjudul Sherina. Sementara itu di layar lebar, Eva ikut membintangi film horor Takut: Faces of Fear tahun 2008 dalam segmen The Rescue, dan sebuah film karya Ratna Sarumpaet, Jamila dan Sang Presiden pada tahun 2009. Di akhir tahun 2013 ia menujukan lagi akting nya lewat Film Adriana. Kini, akting Eva dapat dilihat dalam perannya sebagai Dara.

Elang Nicholas Saputra

Debut aktingnya dimulai lewat film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) tahun 2002. Pernah dinominasikan sebagai aktor terbaik dalam Festival Film Indonesia 2005 untuk film Gie dan Janji Joni dan berhasil merebut penghargaan tersebut untuk perannya sebagai Gie. Nicholas pun mendapatkan penghargaan dalam bidang akting dari berbagai penghargaan, yaitu sebagai Aktor Terbaik Bali International Film Festival 2003 untuk perannya dalam film Biola Tak Berdawai. Ia juga menjadi Most Favorite Actor versi MTV Indonesia Movie Awards 2005 dan Aktor Terbaik Indonesian Movie Awards 2007 berkat aktingnya dalam film Janji Joni. Sederet film terbaik pun dilakoninya setelah itu, seperti 3 Hari untuk Selamanya (2007), Cinta Setaman, Drupadi dan 3 Doa 3 Cinta (2008), Kebun Binatang, Kita Versus Korupsi (2012), What They Don't Talk About When They Talk About Love & Cinta Dari Wamena (2013). Di penghujung tahun 2014, Nicholas Saputra tampil dengan peran yang berbeda lewat film Pendekar Tongkat Emas.

Biru Reza Rahadian

Awal mula Reza Rahadian memulai karier yakni di dunia hiburan dengan menjadi model. Debut aktingnya diawali lewat sebuah sinetron di tahun 2005. Karier akting Reza semakin di film layar lebar. Lewat film Perempuan Berkalung Sorban, ia meraih Piala Citra 2009 untuk kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Tahun selanjutnya, ia juga meraih Piala Citra untuk kategori pemeran Utama Pria Terbaik lewat film 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta. Di 2013, Reza berhasil meraih Piala Layar Emas IMA untuk kategori Pemeran Utama Pria Terfavorit difilm Habibie & Ainun. Tak hanya puas beradu akting, tahun 2012 Reza pun mencoba dunia tarik suara lewat duetnya dengan Acha Septriasa dalam single berjudul Broken Hearts untuk soundtrack film Brokehearts. Tahun 2013 Reza juga mulai mencoba sebagai Sutradara dengan menyutradarai Film Wanita Tetap Wanita & Isyarat. Dari 30 film yang pernah ia bintangi, lewat perannya sebagai Biru di film Pendekar Tongkat Emas lah untuk pertama kalinya ia bermain di film bergenre action.

Gerhana Tara Basro

Tara Basro memulai karirnya lewat dunia model dengan menjadi finalis Gadis Sampul 2005. Pemilik nama lengkap Andi Mutiara Pertiwi Basro ini berhasil terjun dalam dunia seni peran lewat film perdananya di film Catatan Harian Si Boy (2011). Tak lama setelah itu, sederet film pun ia bintangi, seperti Rumah dan Musim Hujan (2012), Hi5teria (2012), Make Money (2013), Killers (2014), The Right One (2014). Dan di akhir tahun 2014, Tara mendapat kesempatan memerankan tokoh Gerhana dalam film Pendekar Tongkat Emas. Di tahun 2015 sederet film sudah menanti dilakoninya, yaitu A Copy of Mind karya Joko Anwar serta Another Trip to the Moon.

Cempaka Christine Hakim

Christine Hakim salah satu aktris senior dan terkemuka di Indonesia. Sepanjang kariernya sebagai artis film Indonesia, Christine Hakim dikenal sebagai artis yang memiliki akting sangat bagus. Sehingga telah banyak mendapatkan pujian dan meraih penghargaan piala Citra selama beberapa kali. Karena itulah dia juga kerap dikatakan hanya bermain di film-film yang berkualitas bagus di bawah arahan sutradara-sutradara yang handal. Badai Pasti Berlalu film ia yang sangat Fenomanel di Indonesia yang membawa nama Christine Hakim sebagai Aktris Legendaris.

Sederetan film yang sempat dimainkan oleh Aktris peraih 6 Piala Citra ini, Pasir Berbisik (2001), Puteri Gunung Ledang (2004), Anak-Anak Borobudur (2007), In the Name of Love (2008), Jamila Dan Sang Presiden (2009), Merantau (2009), Eat Pray Love (2010), Rayya, Cahaya Diatas Cahaya (2012), Sang Kiai (2013), Retak Gading (2014), Jejak Dedari (2014), dan di tahun 2014 ini, Christine Hakim berperan sebagai Pendekar Cempaka, sebuah peran yang belum pernah dilakoninya selama 40 tahun karirnya di dunia film.

Angin Aria Kusumah

Film Pendekar Tongkat Emas merupakan debut film perdana Aria Kusumah sebagai aktor cilik pendatang baru. Sebelum terjun ke dunia film, Aria sempat menghiasi layar kaca dalam beberapa FTV & Sinetron. Selain aktif di dunia entertainment, ia adalah seorang Dai Cilik dan seorang pelajar karate.

Slamet Rahardjo

Slamet Rahardjo Djarot atau lebih dikenal dengan nama Slamet Rahardjo adalah seorang aktor senior yang mengawali karirnya di bidang teater dengan turut bergabung dalam Teater Populer bersama Teguh Karya pada tahun 1968. Tahun 1971 Slamet Rahadjo memulai karir di bidang perfilman, dengan peran pertamanya di film Wadjah Seorang Laki-Laki. Sejak saat itu karirnya kian melejit hingga menghasilkan sederetan prestasi yang cukup membanggakan, seperti Piala Citra untuk kategori Aktor Utama di film Ranjang Pengantin (1975) dan Dibalik Kelambu (1983). Film layar lebar yang sempat dibintanginya adalah, Ranjang Pengantin (1974), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1978), Ponirah Terpidana (1983), Seputih Hatinya Semerah Kertas (1985), Kembang Kertas (1985), Langitku Rumahku (1990), Pasir Berbisik (2001), Banyu Biru (2005), Badai Pasti Berlalu (2007), Laskar Pelangi (2008), Cinta Setaman (2008), Ketika Cinta Bertasbih (2009), Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010), Sang Pencerah (2010), dan Dilema (2012).

Whani Darmawan

Whani Darmawan memulai karirnya sebagai aktor panggung tahun 1985, setelah sekolah tari klasik gaya Yogyakarta (1983-1987). Beberapa karya lakon yang juga ia tulis dan beberapa dimainkan sendiri di antaranya Orang-Orang Asing, Sandiwara Lalat-lalat, Luka-luka yang Terluka (1990), Teatertari Karno Tanding (1998), monolog MetaNietzsche Boneka Sang Pertapa (2003), Pada tahun 2004-2005 terpilih oleh produser film South Star Golden Globe dalam film “Bali Project” untuk memerankan tokoh teroris Indonesia, Imam Samudra. Memberikan pelatihan acting (acting coach) di Dapur Film Community Jakarta untuk sejumlah film Hanung Bramantyo, seperti Kamulah Satu-satunya (2006), Get Married (2006), dan Ayat-ayat Cinta (2007). 2008 Bermain dalam drama satire KABARET bersama teater KOMA Jakarta, produksi METRO TV, sebagai PITARUK. 2008 akhir bermain dalam film DRUPADI sebagai tokoh DURYUDANA, garapan sutradara Riri Riza. April 2014 ia kembali mempresentasikan karya panggungnya Story Telling Pandito in Love (Yukio Mishima/ Sapardi Djoko Damono) di museum Affandi Yogyakarta. Kemudian karya itu bermetamorfoseis dalam lakon teater tubuh (Pandito in Love Body Version), dipentaskan di Asia Tri Festival Yogyakarta dan Hozogawa, Japan (oktober 2014). Bermain sebagai Guru Sayap Merah dalam film Pendekar Tongkat Emas, ia mengaku senang bekerjasama dengan Miles Films. Kesannya, “Sebuah produksi yang rapi dengan penanganan manajemen yang elegant dan manusiawi.”

Landung Simatupang

Landung adalah seorang aktor dan sutradara teater yang berdomisili di Yogyakarta. Perjalanan karirnya dimulai dengan terjun kedalam dunia teater saat kuliah di Gadjah Mada. Sejak itu, ia mulai terlibat dalam pementasan teater luar negeri bersama dengan Black Swan Theater Company, dari Perth, Australia. Keahliannya dalam berbahasa Inggris dimanfaatkan sebagai penerjemah, dan mengajar bahasa Inggris di berbagai sekolah, yang kemudian menggembangkannya pula sebagai editor dan peneliti. Bersama Yudi Ahmad Tajuddin, ia menyutradarai Teater Garasi untuk pementasan Endgame karya Samuel Beckkett, yang dimainkan berkeliling di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Jakarta pada (1999-2000). Dengan berbagai kelompok Teater, Landung telah menyutradarai dan memainkan naskah-naskah Indonesia maupun asing. Dalam film Pendekar Tongkat Emas, Landung berperan sebagai Guruh Sepuh.

Prisia Nasution

Prisia Nasution lahir di Jakarta, 1 Juni 1984. Wanita cantik yang akrab disapa Pia ini sebelum terjun ke dunia film adalah seorang atlet basket dan model. Wajahnya sering tampil di berbagai FTV dan menjadi pembawa acara World Kick Off, Lensa Olahraga dan Termehek-Mehek. Film layar lebar pertamanya yang berjudul Sang Penari di tahun 2011 mengantarkannya sebagai Aktris Terbaik FFI 2011. Di tahun 2011 pula ia ikut berperan pada serial televisi Laskar Pelangi sebagai Ibu Muslimah. Tahun 2013 sederatan film layar lebar diperankan oleh Prisia, seperti Rectoverso, Laura & Marsha, Jokowi, dan memerankan Butet Manurung dalam film Sokola Rimba. Tahun 2014, Prisia kembali bekerjasama dengan Miles Films dalam film Pendekar Tongkat Emas memerankan Cempaka muda.

Darius Sinathrya

Karir Darius Sinathrya berawal dari seorang model dan presenter acara olahraga. Beberapa program acara olahraga, seperti Piala Dunia 2006 dan Liga Inggris, membawanya memperoleh penghargaan sebagai pembawa acara olahraga terfavorit di ajang Panasonic Awards 2007. Debut karir layar lebarnya dimulai dari film D’Bijis (2007) dan Naga Bonar (Jadi) 2. Kemudian berlanjut lewat film Love (2008) dan trilogi Merah Putih (2009), Darah Garuda (2010) dan Hati Merdeka (2011). Selain berprofesi sebagai aktor, Darius juga pernah menjabat sebagai manajer tim nasional futsal Indonesia. Peran berbeda ia perankan sebagai Naga Putih dalam film Pendekar Tongkat Emas.

News

Video

Video Diary 1

Video Diary 2

Video Diary 3

Video Diary 4

Video Diary 5

Teaser Trailer

Final Trailer




Theme Song

Available on iTunes

Shop


  • Buku
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    Penulis: Rita Triana Budiarti


  • Komik
    Penerbit: M&C
    Cerita & Gambar: Ragasukma Studio feat Alex Irzaqi


  • Merchandise
    Produced by TMS ASIA
    Klik di sini


  • OST
    Available on iTunes


  • Game Pendekar Tongkat Emas
    Download